Plat Stainless Steel | Mengenal Jenis, Ukuran, dan Fungsinya

stainless steel

Tau nggak sih Perkasa Partner bahwa stainless steel adalah salah satu jenis besi yang umum dijumpai dan digunakan dalam berbagai kebutuhan. Sebelum kita bahas lebih jauh tentang jenis dan fungsinya, mari kita simak lebih dalam apa yang dimaksud dengan stainless steel!

Daftar Isi

Apa Itu Stainless Steel

Komposisi Stainless Steel
Komposisi Stainless Steel
Image source : aparem.com

Stainless steel atau baja tahan karat adalah salah satu baja paduan yang mengandung kromium. Apa itu kromium? Kromium (chromium) adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cr yang digunakan untuk memberikan ketahanan terhadap korosi pada besi. Stainless mengandung setidaknya 10,5% hingga 30% kromium, kurang dari 1,2% karbon, dan elemen paduan lainnya. Elemen lain, seperti nikel, molibdenum, titanium, aluminium, niobium, tembaga, nitrogen, belerang, fosfor, atau selenium, dapat ditambahkan untuk meningkatkan ketahanan korosi terhadap lingkungan tertentu, meningkatkan ketahanan  oksidasi, dan memberikan karakteristik khusus. 

Lapisan stainless steel
Lapisan stainless steel
Image source : assda.asn.au

Stainless memiliki sifat netral terhadap lingkungan, tahan terhadap reaksi kimia (inert), dan sangat awet sehingga memenuhi syarat untuk kebutuhan konstruksi yang berkelanjutan. Selain itu, stainless dapat didaur ulang dan tidak melarutkan senyawa yang dapat mengubah komposisinya saat bersentuhan dengan unsur-unsur lain seperti air. Dengan kandungan kromium lebih dari 10,5%, dan dilindungi oleh lapisan pasif (passive film) kromium oksida yang terbentuk secara alami di permukaan material melalui reaksi kromium dengan oksigen dari udara atau air. Jika permukaannya tergores, ia meregenerasi dirinya sendiri sehingga tahan terhadap korosi. 

Selain bermanfaat terhadap lingkungan, stainless juga menarik secara estetika, sangat higienis, mudah dirawat, dan sangat tahan lama. Maka dari itu, stainless dapat ditemukan pada benda sehari-hari. Hal ini membuat stainless memiliki peran penting dalam berbagai industri, termasuk energi, transportasi, bangunan, penelitian, kedokteran, makanan, dan logistik. Untuk mengetahui informasi plat stainless steel secara langsung Perkasa Partner bisa menonton video berikut ini!

Jika Anda ingin mengetahui informasi lebih lanjut, yuk simak penjelasan detail mengenai dimensi ukuran dan proses pembuatan plat stainless steel dibawah ini!

Dimensi Ukuran Plat Stainless Steel

Dimensi ukuran plat stainless steel
Dimensi ukuran plat stainless steel

Pada gambar di atas kita bisa melihat dimensi utama dari plat stainless steel adalah W (mm) x L (mm) x t (mm). W digambarkan sebagai sisi lebar, L adalah panjang keseluruhan dan t adalah tebal plat stainless steel. Ilustrasi ini dapat digunakan sebagai panduan untuk mengetahui ukuran plat stainless steel secara umum. 

Tahukah Perkasa Partner, bahwa plat ini tersedia juga dalam bentuk coil, yang kemudian dapat dipotong sesuai kebutuhan. Ukuran plat stainless steel menurut ASTM A480 memiliki  ukuran standar dengan tebal: 0,3 mm sampai dengan 3 mm dengan lebar mulai dari 1000 mm, 1219 mm, hingga 1500 mm dan panjang mulai dari  2000 mm, 2438 mm, 3000 mm, 3048 mm, hingga 6000 mm.

Proses Pembuatan Plat Stainless Steel

Stainless steel memiliki ketahanan korosi dan kekuatan yang sangat baik, serta memiliki penampilan yang menarik. Lantas, bagaimana stainless steel berubah dari tumpukan potongan atau bijih halus menjadi bentuk akhir seperti yang kita tahu saat ini? Yuk simak proses pembuatannya berikut ini!

1. Pencairan (Melting)

Proses Pencairan (Melting) Scrap menjadi slab
Proses Pencairan (Melting) Scrap menjadi slab
Tahap-Tahap Proses Pencairan (Melting)
Tahap-Tahap Proses Pencairan (Melting)

Semua jenis kategori stainless memiliki langkah awal pembuatan yang sama yaitu proses pencairan (melting) yang dilakukan menggunakan electric arc furnace (EAF) atau tungku busur listrik berukuran besar untuk memanaskan material bahan baku selama berjam-jam yang menghasilkan logam cair yang ditunjukkan pada tahap pertama. Kemudian pada tahap kedua logam cair akan ditransfer ke konverter. Untuk mendapatkan komposisi kimia yang benar dan suhu yang tepat, elemen campuran ditambahkan dalam konverter sebelum dilanjutkan proses pengecoran. Elemen lain yang ditambahkan tergantung dari permintaan konsumen tergantung dari karakteristik khusus yang diinginkan, seperti nikel agar nantinya lebih tahan terhadap korosi. Nah, untuk karakteristik khusus ini dibedakan menjadi 4 kategori yaitu Austenitic, Martensitic, Ferritic dan Duplex. Beberapa produsen juga menggunakan bahan baku stainless daur ulang untuk penghematan biaya maupun menyelesaikan isu lingkungan.

Pada tahap ketiga, logam cair kemudian didinginkan dan dipadatkan selama proses pengecoran terus menerus dan lebar maksimum juga ditentukan. Menggunakan api oksigen, baja padat dipotong menjadi slab dengan berat, panjang, tebal dan lebar yang disesuaikan. Beberapa slab kemudian digiling untuk menghilangkan cacat permukaan sebelum semuanya dikirim ke hot rolling mill untuk dipanaskan kembali menggunakan suhu tinggi.

2. Hot Rolling

Proses Hot-Rolling
Proses Hot-Rolling
Tahap-Tahap Proses Hot-Rolling
Tahap-Tahap Proses Hot-Rolling

Selanjutnya untuk tahap pertama adalah proses pemanasan ulang slab dalam tungku pada suhu rata-rata 1250°C. Pada tahap kedua, slab harus melalui beberapa lintasan pengerolan pada roughing mill untuk mengurangi ketebalan awal. Terowongan termal mempertahankan suhu slab meskipun ketebalannya sudah berkurang. 

Pada tahap ketiga, slab harus melewati serangkaian rolling stand untuk mencapai ketebalan yang diinginkan. Setelah ketebalan sudah sesuai selanjutnya akan  didinginkan dan digulung untuk membentuk gulungan, juga disebut “gulungan hitam” karena permukaannya yang teroksidasi. 

3. First Annealing and Pickling

Proses First Annealing and Pickling
Proses First Annealing and Pickling
Tahap-Tahap Proses First Annealing and Pickling pada stainless steel
Tahap-Tahap Proses First Annealing and Pickling

Pada tahap pertama proses ini, gulungan hitam dipanaskan dalam tungku anil. Anil adalah proses pemanasan (heat treatment) baja dan paduan hingga suhu yang sesuai untuk jangka waktu tertentu dan kemudian didinginkan secara perlahan (pendinginan tungku). Tahap ini dimaksudkan untuk memulihkan sifat mekanik stainless steel. Kemudian pada tahap kedua dilakukan proses pengawetan atau pickling yang dilakukan di bak asam, diakhiri tahap ketiga dengan pembersihan oleh air dan pengeringan dengan udara. Proses ini menghasilkan gulungan putih tanpa oksida di permukaan yang juga dikenal sebagai hasil akhir HRAP atau HRAP finishing.

Pada titik ini, biasanya gulungan HRAP putih sudah dapat dijual tanpa cold rolling atau finishing permukaan lebih lanjut.

4. Cold Rolling and Final Annealing

Proses Cold Rolling and Final Annealing
Proses Cold Rolling and Final Annealing
Tahap-Tahap Proses Cold Rolling and Final Annealing pada stainless steel
Tahap-Tahap Proses Cold Rolling and Final Annealing

Pada proses ini ketebalan gulungan putih akan semakin berkurang selama proses pendinginan (cold rolling mill). Tahap pertama, dilakukan penggulungan strip beberapa kali di cold rolling mill, proses ini menghasilkan ketebalan minimum 0,3 mm sehingga memenuhi persyaratan pelanggan dan kualitas permukaan yang diperlukan untuk penggunaan akhir.

Setelah melalui penggulungan dingin atau cold rolling, kemudian pada tahap kedua dilanjutkan proses penguatan (anil) yang  bertujuan untuk memulihkan sifat mekanik stainless. Selanjutnya dilakukan pengawetan (pickling) untuk menghilangkan oksida anil dan memberikan baja stainless aspek matt (2D).

Pada tahap ketiga yang dapat menjadi pilihan lainnya adalah melakukan proses penguatan (anil) dibawah atmosfer pelindung dengan hasil akhir lebih terang. Terakhir tahap keempat adalah Skin Pass dilakukan untuk meratakan permukaan gulungan dengan hasil akhir akan terlihat seperti peralatan rumah tangga (2B atau BA).

5. Finishing

proses finishing
proses finishing
Tahap-tahap proses finishing pada stainless steel
Tahap-tahap proses finishing

Selama finishing, material gulungan diberi tampilan akhir sesuai standar yang ditetapkan. Finishing atau hasil akhir biasanya disesuaikan dengan keinginan customer. Tetapi secara standar, hasil akhir dari pembuatan stainless ini adalah berbentuk plat, strip dan tube.

Secara umum finishing pada plat stainless steel sangat diperhatikan mengingat hal tersebut berpengaruh pada hasil akhir yang dapat meningkatkan daya tarik pada produk jadi. Seperti, dalam industri arsitektur dan otomotif, hasil akhir yang berbeda dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai efek visual. Sedangkan, dalam produk ritel, terutama peralatan dapur, juga memiliki lapisan finishing yang berbeda. Selain berpengaruh pada tampilan hasil akhir, pilihan finishing permukaan juga penting dalam proses perkaitan. 

Finishing dengan permukaan yang kasar lebih mudah digunakan pada proses perakitan sebelum di cat dan direkatkan. Sedangkan finishing permukaan halus lebih mudah digunakan jika material akan dicampur dengan material lainnya. Pemilihan penggunaan finishing pada material ini juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan standar industri atau perusahaan.

Berikut ini adalah jenis-jenis plat stainless steel setelah proses finishing menurut ASTM A480 :

Jenis-jenis finishing plat stainless steel
Jenis-jenis finishing plat stainless steel
Image source: Chinasteelpipes.com

No. 1 Finish (hot rolled, annealed and passivated)

Finishing ini memiliki permukaan yang kasar, dengan warna yang pudar (dull). Finishing ini bisa digunakan untuk aplikasi industri dimana umumnya menggunakan plat tebal. Jika digerenda (grinding), akan kelihatan tanda (bekas) gerinda pada permukaannya.

No. 2B Finish

No 2B adalah mill finish, artinya belum diproses lebih lanjut. Memiliki permukaan halus dengan warna silver, lebih terang jika dibandingkan dengan  2D dan semi-reflective (seperti cermin yang buram). Hasil akhir matte terlihat kusam dan tidak ideal untuk penggunaan akhir dengan menonjolkan unsur estetika. Finishing No. 2B adalah pilihan finishing yang paling murah hingga paling banyak digunakan. Aplikasi umum meliputi peralatan pabrik kimia, peralatan pabrik kertas, binatu dll. 

No. 2BA Finish

Finishing ini umumnya ditunjuk sebagai bright annealed (BA) finish. Tipe ini memiliki permukaan yang halus, mengkilap dan daya pantul menyerupai kaca (mirror). Finishing pada plat stainless steel ini biasanya digunakan untuk alat-alat dapur, perlengkapan makan, peralatan pengolah makanan, alat kedokteran, komponen arsitektur, alat pancing dan lain-lain.

No. 4 Brushed Finish

Finishing pada material ini umumnya memiliki permukaan halus dengan garis-garis, hasil finishing ini tidak begitu memantulkan cahaya dikarenakan pada proses ini baja di sikat dengan cara mengamplas dalam satu arah menggunakan sabuk grit 120-180. Namun meski begitu finishing ini juga memiliki kekurangan seperti ketahanan terhadap korosi rendah, hal itu dikarenakan lekukan pada finishing ini rentan terhadap karat. Finishing pada plat stainless steel ini biasanya digunakan sebagai perhiasan, jam tangan, peralatan rumah tangga dan desain otomotif.

Hairline (HL) Finish

Tipe finishing pada plat stainless steel ini serupa dengan No 4 tapi yang membedakan adalah tipe ini memiliki garis yang lebih panjang (continuous long grain). Seperti namanya yang mengandung kata hair, finishing ini seperti memberikan kesan garis-garis harus seperti rambut pada permukaan stainless. Dia tidak terlihat seperti kaca atau memantulkan bayangan, bias dikatakan semi doff. Finishing ini sering digunakan pada lift/ elevator, panel tiang, dekorasi arsitektur. Untuk plat stainless steel  SS 304 HL cocok untuk alat-alat dapur (kitchenware), dan juga peralatan medis.

No. 8 Mirror Finish

Memiliki permukaan daya kilap dengan tingkat pantulan cahaya yang tinggi, permukaan yang sempurna (bebas cacat) dan tampilan seperti cermin. Permukaan yang halus dan terdapat banyak pilihan warna seperti gold, rose gold, hitam, bronze dan lain-lain. Finishing ini dibuat dengan menggunakan roda poles untuk mengaplikasikan kompon pada logam. Selanjutnya, gunakan grit 800 atau lebih tinggi, tergantung pada hasil akhir yang Anda cari. Saat memoles permukaan, pastikan untuk memegang benda kerja pada sudut 90 derajat sehingga goresan dapat dihilangkan dari permukaan selama 5-10 menit untuk menciptakan hasil akhir yang sangat reflektif seperti cermin. Finishing pada plat stainless steel ini biasanya digunakan sebagai cermin, panel-panel dinding, material pembuatan furniture atau coffee table karena finishing ini membuat tampilan objek menjadi elegan, mewah dan indah.

Kategori dan Jenis Plat Stainless steel

Kategori dan jenis pada stainless steel
Kategori dan jenis pada stainless steel

Dari gambar bagan diatas, membantu Perkasa Partner dalam memahami gambaran menyeluruh mengenai plat stainless steel yang terbagi menjadi beberapa kategori dan jenis. Berdasarkan grade-nya, plat stainless steel dibagi menjadi 4 kategori yang mendasar, yaitu:

  1. Martensitic
  2. Ferritic
  3. Austenitic
  4. Duplex

Serta terdapat satu jenis stainless steel yang melewati proses pengendapan dan pengerasan terlebih dahulu sehingga membentuk jenis stainless steel yang disebut, Precipitation Hardening (PH). 

Setiap kategori plat stainless steel tersebut memiliki komponen penyusun, kegunaan, kelebihan, dan kekurangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk mengetahui setiap perbedaannya secara mendalam, simak informasi dibawah ini agar memudahkan Perkasa partner dalam memilih tipe dan jenis plat stainless steel yang sesuai dengan kebutuhan Anda!

1. Martensitic

Komposisi martensitic stainless steel
Komposisi martensitic stainless steel
Sumber: IQSdirectory.com

Martensitic stainless steel memiliki struktur kristal tetragonal yang berpusat pada tubuh. Plat stainless steel ini terdiri dari 11,5-17% kromium dan 0,1-1,2% karbon. Jenis stainless steel satu ini bersifat magnetis dan tahan benturan. Martensitic stainless steel memiliki beberapa tipe diantaranya adalah sebagai berikut!

Tipe dan Kegunaan Martensitic Stainless Steel

Berdasarkan kandungan karbonnya, tipe martensitic stainless steel dibagi sebagai berikut:

Martensite karbon rendah (0,05-0,25% karbon)

Memiliki sifat yang tidak terlalu kuat jika dibandingkan dengan martensite karbon tinggi dan memberikan ketahanan terhadap korosi.

Martensite karbon tinggi (0,61-1,50% karbon)

Kandungan karbon yang lebih banyak membuat material ini lebih kuat, karena unsur karbon dapat memperkuat struktur molekul. Akan tetapi, hal ini juga menjadikan sifat logam ini lebih rapuh, dan tidak bisa dilas atau dibentuk.  

Tipe 410 Stainless Steel

Merupakan tipe martensitic stainless steel yang serbaguna dan banyak digunakan. Tipe ini digunakan untuk aplikasi produk yang memiliki potensi korosi ringan, seperti peralatan makan, bilah turbin, katup, bagian mikrometer, mur, baut, maupun bantalan bola. Stainless Steel 410 memiliki tingkat kekerasan yang bisa sedikit diubah dengan perlakuan panas (heat treatment).

Tipe 420 Stainless Steel 

Kisaran kandungan karbon pada tipe ini mencapai 0,15%-0,45%. Dengan kisaran kandungan karbon tersebut menjadikannya memiliki tingkat kekerasan yang lebih baik dari tipe 410. Ada beberapa produk aplikasi yang menggunakan martensitic stainless steel 420, diantaranya adalah untuk peralatan makan, ring, suku cadang mesin, senjata api, dan peralatan bedah. 

Tipe 431 Stainless Steel 

Untuk tipe 431 memiliki kandungan kromium yang lebih banyak, sehingga ketahanan korosinya lebih baik dan cocok digunakan untuk industri kelautan. Selain itu, tipe ini bisa diberikan perlakuan panas hingga kekuatan tinggi loh Perkasa partner, sehingga tipe ini sering digunakan dalam dunia perbautan yang membutuhkan kekuatan luluh yang tinggi. 

Kelebihan Martensitic Stainless Steel 

  • Martensitic Stainless Steel memiliki konduktivitas termal yang tinggi. Apa itu konduktivitas termal? Konduktivitas termal adalah suatu koefisien yang menyatakan kemampuan suatu bahan dalam menghantarkan kalor. Semakin baik suatu bahan menghantarkan kalor, maka nilai koefisien konduktivitas termal bahan tersebut semakin besar sehingga cocok untuk aplikasi yang membutuhkan distribusi panas yang baik.
  • Koefisien ekspansi termal atau coefficient of thermal expansion (CTE) yang rendah membuat stainless steel jenis ini cenderung mempertahankan bentuknya pada suhu tinggi, sehingga cocok digunakan pada produk yang memerlukan kekakuan tinggi. 

Kekurangan Martensitic Stainless Steel 

  • Kurang tahan terhadap korosi dibanding jenis plat stainless steel yang lain. Hal ini, dikarenakan kandungan nikel dalam martensitic stainless steel rendah. 
  • Martensite karbon rendah memberikan ketahanan korosi yang lebih baik dibandingkan, martensit karbon tinggi.
  • Sulit untuk dilas dan dibentuk karena sifatnya yang mudah rapuh. 

2. Ferritic 

Komposisi ferritic stainless steel
Komposisi ferritic stainless steel 
Sumber: IQSdirectory.com

Jenis stainless steel ferritic ini terbentuk dari komposisi kromium (10,5%-30%), karbon kurang dari 0.1%, molibdenum (0-4.5%), aluminium, titanium, dan sedikit nikel serta memiliki struktur kristal body-centered cubic (BCC). Jenis stainless steel yang satu ini bersifat magnetis dan tidak dapat dikeraskan dengan perlakuan panas, melainkan dengan pengerolan dingin. 

Tipe-tipe Ferritic Stainless Steel dan Kegunaannya

Tipe 405 Stainless Steel 

Memiliki kandungan aluminium dan kromium rendah. Dengan ditambahkannya aluminum pada pembuatannya sehingga dapat mencegah pengerasan ketika didinginkan dari suhu tinggi.

Tipe 409 Stainless Steel

Tipe ini adalah jenis ferritic stainless steel yang mempunyai sifat stabil dan terdiri atas perpaduan antara krom sebanyak 11% dan titanium. Biasanya tipe 409 digunakan untuk perlindungan dari korosi dan oksidasi baja karbo. Selain itu, tipe 409 juga digunakan untuk knalpot kendaraan, industri pertanian, dan perlengkapan rumah tangga yang membutuhkan material anti korosi. 

Knalpot dari stainless steel
Knalpot dari stainless steel 
Tipe 429 Stainless Steel 

Tipe 429 adalah jenis ferritic stainless steel dengan kandungan kromium yang sedikit lebih rendah daripada tipe 430. Biasanya tipe ini digunakan dalam konstruksi dekorasi internal dan perlengkapan rumah tangga. 

Tipe 430 Stainless Steel 

Memiliki sifat yang tahan panas dengan tingkat tahan korosi sedang. Tipe ini bersifat magnetis dan memiliki sifat mudah dibentuk sesuai yang diinginkan. Kegunaan dari plat stainless 430 ini adalah material untuk membuat peralatan dapur, bak cuci piring, pelapis mesin pencuci piring, maupun dalam dunia otomotif.

Tipe 446 Stainless Steel 

Tipe 446 Stainless Steel adalah tipe ferritic stainless steel yang mempunyai ketahanan baik terhadap oksidasi pada suhu yang tinggi. Jenis ini biasa digunakan untuk boiler, industri knalpot, lapisan tungku, maupun cetakan kaca. 

Kelebihan Ferritic Stainless Steel 

  • Tahan terhadap Stress Corrosion Cracking (SCC) atau tegangan korosi

Karena struktur feritiknya yang mampu menahan klorida, kelembaban tinggi, dan suhu tinggi sehingga tahan terhadap korosi daripada jenis martensite

  • Konduktivitas termal yang tinggi, sehingga cocok digunakan sebagai bahan untuk membuat boiler maupun produk lain yang melibatkan perpindahan panas.
  • Memiliki kandungan karbon yang rendah sehingga membuatnya mudah dibentuk dalam berbagai macam bentuk tanpa takut ada masalah cracking atau necking karena tidak terlalu keras.
  • Memiliki koefisien ekspansi termal yang rendah, dengan demikian jenis stainless steel ini secara dimensi lebih stabil dalam berbagai suhu.

Kekurangan Ferritic Stainless Steel 

  • Ketahanan korosinya lebih rendah dibanding kategori austenitic stainless steel.

3. Austenitic

Komposisi austenitic stainless steel
Komposisi austenitic stainless steel 
Sumber: IQSdirectory.com

Austenitic stainless steel adalah kategori paling tahan karat yang banyak digunakan. Jenis stainless steel ini dinamakan oleh ahli metalurgi Inggris bernama Sir William Chandler Roberts-Austen. Stainless steel jenis ini memiliki struktur kristal face-centered cubic (FCC) dengan penambahan unsur lain seperti nikel, mangan, dan nitrogen. Jenis stainless steel ini tidak dapat dikeraskan dengan perlakuan panas tetapi dingin untuk meningkatkan kekuatan dan kekerasannya. Selain itu, jenis stainless steel ini bersifat non-magnetik. 

Stainless steel yang membentuk struktur kristal austenite selain struktur kisi kubik pusat biasanya terbentuk di seluruh temperatur, baik suhu panas maupun dingin. Sementara magnesium, nitrogen dan nikel merupakan elemen penstabil struktur austenite.

Jenis stainless steel ini terdiri dari bahan utama 16% kromium, 7% nikel, dan nitrogen. Tingkat ketahanan jenis ini akan korosi lebih baik dari jenis ferritic dan . Ada dua kategori dari jenis austenitic ini, yaitu seri 300 dan 200. Mana yang lebih baik diantara keduanya? Simak informasi dibawah ini!

Tipe dan Kegunaan Austenitic Stainless Steel 

Secara umum kategori austenitic stainless steel biasa digunakan di gantungan tabung untuk penyulingan minyak bumi dan ketel uap, komponen internal gasifier batubara, baut jangkar tahan api, dan lain-lain. Berikut ini adalah tipe-tipe austenitic stainless steel. 

Tipe 201 Stainless Steel 

Mengandung 16-18% kromium dan 3,5-5,5% nikel. Karena memiliki kandungan nikel yang lebih rendah, tipe ini jadi memiliki perlindungan dibawah rata-rata dari korosi. Namun, harganya lebih murah daripada jenis lainnya. Selain itu, tipe 201 ini mudah dibentuk dan memiliki kemampuan las yang baik. 

Tipe 202 Stainless Steel

Mengandung 17-19% kromium, 4-6% nikel, dan 7,5-10% mangan yang banyak digunakan untuk pengerasan presipitasi dan memiliki ketahanan korosi yang baik, kekerasan tinggi, ketangguhan (bahkan pada suhu yang lebih rendah), dan kemampuan las yang baik. Jenis ini hampir mirip dengan tipe 302, akan tetapi tipe 202 memiliki kekuatan luluh yang lebih rendah. 

Tipe 301 Stainless Steel

Menawarkan ketahanan korosi yang sama dengan tipe 304, namun ketahanan korosi pada tipe 301 lebih rendah di lingkungan yang korosif dan bersuhu tinggi karena memiliki kandungan kromium yang lebih rendah sekitar (16-18%).

Tipe 304 Stainless Steel

Tipe 304 adalah stainless steel yang paling populer karena memiliki ketahanan kimia, oksidasi, dan korosi yang sangat baik dalam berbagai suhu. Namun, tentan terhadap korosi pitting dan retak korosi tegangan saat terkena klorida. Tipe ini mengandung 18% kromium dan 8% nikel. Selain itu, tipe ini memiliki berbagai kelebihan lain seperti dapat dengan mudah dibentuk dan dikerjakan menjadi berbagai produk. Stainless steel 304 biasanya digunakan untuk peralatan dapur seperti panci dan wajan, wastafel maupun perangkat keras dekoratif arsitektur dalam ruangan. 

Peralatan dapur yang terbuat dari stainless steel
Peralatan dapur yang terbuat dari stainless steel 
Tipe 310 Stainless Steel 

Memiliki kandungan kromium yang lebih tinggi sebesar 24-26% daripada tipe 304.

Tipe ini juga lebih keras daripada tipe 304 serta memiliki kemampuan pengerasan, keausan, dan ketahanan korosi yang lebih besar daripada 304. 

Tipe 316 Stainless Steel 

Stainless steel 316 adalah tipe baja tahan karat yang paling populer dan banyak digunakan setelah tipe 304. Tipe ini mengandung molibdenum dalam jumlah tinggi dan silikon, mangan, karbon, kromium, dan nikel dalam jumlah tinggi. Konsentrasi molibdenum yang tinggi membuat grade 316 lebih tahan terhadap korosi pitting dan celah daripada grade 304 di lingkungan salin. Grade 316 memiliki karakteristik pembentukan dan pengelasan yang baik.

Type 321 Stainless Steel

Tipe 321 adalah stainless steel yang distabilkan titanium dengan ketahanan korosi yang baik. Selain itu, tipe ini memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap presipitasi kromium karbida saat terkena suhu tinggi. Ini juga memiliki sifat creep dan stress rupture yang lebih tinggi daripada grade 304. Semua sifat ini dipertahankan dalam suhu tinggi.

Kelebihan Austenitic

  • Mudah dibentuk dan di las

Austenitic stainless steel mudah dibentuk dan memiliki kemampuan las yang tinggi. Selain itu, karena kandungan kromiumnya yang tinggi (16-30%), otomatis dia juga memiliki ketahanan kimia yang lebih unggul. 

  • Kekuatan dan kekerasan stainless steel jenis ini lebih baik dari 2 jenis ferritic dan martensitic.
  • Bisa tahan terhadap suhu yang ekstrim.

Kekurangan Austenitic

  • Panas berpindah secara perlahan pada austenitic stainless steel, sehingga mempunyai konduktivitas termal yang baik. Konduktivitas termal adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan panas. 

Duplex

Komposisi duplex stainless steel
Komposisi duplex stainless steel 
Sumber: IQSdirectory.com

Duplex Stainless steel termasuk sejenis baja tahan karat yang di dalamnya terkandung unsur molybdenum, nitrogen, nikel, dan chromium dengan kadar seimbang. Material ini sangat cocok dipakai pada suhu yang sangat rendah mulai dari -50°C sampai +300°C. Bisa dikatakan jenis duplex ini merupakan gabungan sifat baik dari austenitic dan ferritic. Punya kemampuan baik dari segi ketahanan akan korosi, namun juga kokoh. Bahan jenis ini sering dipakai untuk komponen industri petrokimia, kertas hingga komponen kapal. Dibawah ini adalah Tipe dan Kegunaan Stainless Steel Duplex!

Tipe dan Kegunaan Stainless Steel Duplex

UNS S32750

Duplex jenis ini memiliki sifat yang hampir sama seperti tipe 316 namun mempunyai kekuatan tarik mencapai 2 kali lipat. Memiliki komposisi 24% chromium, dan 0,03% karbon, 4% nikel dan 0,028% nitrogen.

UNS S31803

Jenis Duplex ini paling banyak dipakai. UNS S31803 terdiri dari komposisi nikel 5,5%, krom 22%, nitrogen 0,15% nitrogen, dan maksimal karbon 0,03%.

Tipe 2010

Diaplikasikan untuk pengolahan zat-zat kimia, sebab mempunyai ketahanan dan kekuatan korosi yang baik.

Tipe 2507

Jenis ini dipakai pada aplikasi pengendalian terhadap pencemaran gas buang.

Kelebihan Duplex

  • Kekuatan yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan produk baja tahan karat lainnya
  • Peningkatan keuletan dan ketangguhan bila dibandingkan dengan produk baja feritik, namun nilai ini tetap kurang dari produk austenitik
  • Ketahanan korosi yang sangat baik

Kekurangan Duplex

  • Tidak dapat digunakan pada suhu tinggi karena pembentukan fase getas dalam ferit pada suhu yang relatif rendah. Fase-fase ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketangguhan baja dan aplikasi ini harus dihindari.

Bagaimana Perkasa Partner sudah lebih paham bukan tentang kategori dan jenis dari stainless steel berdasarkan grade-nya? Selanjutnya terdapat satu jenis stainless steel lagi yang melewati sebuah proses khusus yaitu pengendapan dan pengerasan, sehingga menghasilkan jenis stainless steel Precipitation Hardening (PH). Untuk informasi lebih lengkapnya simak penjelasannya dibawah ini!

Precipitation Hardening (PH)

Precipitation-hardened (PH) stainless steel adalah stainless steel yang keras dan kuat akibat dari dibentuknya suatu endapan dalam struktur mikro logam. Sehingga gerakan deformasi menjadi terhambat dan memperkuat material stainless steel. Tipe ini mengandung sedikit tembaga, aluminium, titanium, dan molibdenum. Jenis stainless steel ini memiliki tingkat kekuatan, kekerasan dan ketahanan terhadap korosi yang baik.

Tipe dan Kegunaan Precipitation Hardening (PH) Stainless Steel 

Kegunaan dari kategori ini diaplikasikan sebagai pembuatan baut, gear, komponen katup, dan komponen-komponen pada mesin yang membutuhkan ketahanan korosi dan kekuatan tinggi. Secara umum, PH dikategorikan menjadi tiga jenis: 

Low Carbon Martensitic

Pada suhu anil sekitar 1040°Chingga 1065°C, stainless steel jenis ini memiliki struktur austenitik yang dominan. Setelah pendinginan ke suhu kamar, mereka mengalami transformasi yang mengubah austenit menjadi martensit. Nilai martensit juga stabil secara dimensi selama pengerasan, menjadikannya ideal untuk bagian yang dibentuk dan harus memenuhi toleransi yang ketat. 

Dalam penerapannya, tipe ini membutuhkan karakteristik pegas dan kemampuan mempertahankan kebulatan sempurna. Saat terbentuk, perlakuan pengerasan presipitasi menghasilkan kekuatan hingga 1380 MPa (200 ksi). Kegunaan dari tipe ini biasa digunakan di pesawat terbang dan ladang minyak. 

Semi-Austenitic

Tidak seperti tipe presipitasi martensitik, presipitasi semi-austenitik anil cukup lunak untuk dikerjakan dingin. Stainless steel semi-austenitik mempertahankan struktur austenitiknya pada suhu kamar tetapi membentuk martensit pada suhu yang sangat rendah. Paduan PH semi-austenitic dari stainless steel jenis ini secara metalurgi jauh lebih kompleks daripada stainless steel lainnya.

Austenitic – Typical Compositions

Nilai austenitik dari paduan PH digunakan dalam aplikasi yang membutuhkan kekuatan tinggi, ketahanan korosi sedang, dan kemampuan manufaktur yang baik. Jenis ini yang paling terkenal adalah Paduan A286, paduan besi-nikel-kromium dengan unsur aluminium dan fosfor yang dapat dikeraskan. Grade ini memiliki kekuatan dan ketahanan korosi yang baik pada suhu hingga 700 °C (1300 °F). Nilai austenit stainless steel membutuhkan suhu penuaan tinggi sekitar 700 °C (1300 °F). Perlakuan panas ini sedikit mengurangi ketahanan korosi, namun ketahanan oksidasi masih sangat baik.

Kelebihan Precipitation Hardening (PH)

  • Kategori stainless steel yang keras dan kuat akibat pembentukan endapan atau presipitat pada struktur mikro logam. 
  • Material yang mudah dibentuk sesudah dipanaskan pada suhu yang cukup tinggi. 
  • Memiliki karakteristik lebih kuat dibandingkan austenitic, lebih tangguh dan anti korosi. Aplikasi penggunaannya biasanya untuk material pembuatan pesawat.

Plat Stainless Steel Manakah yang Terbaik?

Meskipun seluruh kategori plat stainless steel didasarkan pada kandungan kromium (Cr), namun unsur paduan lainnya ditambahkan untuk memperbaiki sifat-sifat stainless steel sesuai dengan penggunaannya. Kategori pada plat stainless steel tidak sama seperti produk besi atau baja lain yang didasarkan pada persentase karbon tetapi didasarkan pada struktur metalurginya.

Agar Perkasa Partner dapat dengan mudah menentukan plat stainless steel yang sesuai untuk berbagai kebutuhan Anda, berikut ini kami ringkas informasi lengkap mengenai jenis plat stainless steel beserta penggunaannya dalam infografis di bawah ini. Jangan lupa bagikan infografis ini, agar semakin banyak orang yang tau kategori jenis plat stainless steel beserta kegunaannya ya! 🙂

Bagikan infografis sekarang
Infografis mengenal jenis dan fungsi plat stainless steel
Infografis mengenal jenis dan fungsi plat stainless steel

Lalu manakah jenis plat stainless steel yang terbaik? Sebenarnya ini tergantung dengan jenis pengaplikasiannya dibuat menjadi apa. Anda dapat menyesuaikan kebutuhan Anda dengan  memilih jenis tipe plat stainless steel yang sesuai dengan budget dan produk yang ingin Anda buat sehingga hasilnya lebih maksimal.

Nah, bagaimana Perkasa Partner? Apakah sudah bisa menentukan jenis plat stainless steel yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda berdasarkan informasi di atas? Yuk segera kunjungi website SMS Perkasa atau hubungi sales kami untuk konsultasi gratis dan dapatkan penawaran terbaik!

Bagikan sekarang